Brain or Heart

Dalam menentukan sebuah pilihan, kadcang kita dibingungkan oleh dua pilihan yang datang dari dua sumber yang berbeda walaupun tetap asalnya dari dalam diri kita. Mau ikutin hati atau ikutin otak?

Well, memang sih sebaiknya permasalahan diselesaikan dengan otak. Dengan pemikiran yang jernih, tanpa terbawa emosi. Tapi, kalau hatinya sendiri ga tenang, gimana bisa berpikir dengan jernih?

Gue sendiri masih sering labil, bagaikan anak muda masa kini. Di satu sisi gue merasa ada sebuah kesempatan yang bagus, tapi hati gue merasa tidak nyaman untuk bekerja disitu, kalau ada masalah seperti itu apakah yang sebaiknya kita lakukan?

Gue memilih untuk mengikuti hati gue, dimana gue akan mencari sebuah tempat yang nyaman untuk gue, sehingga otak gue bisa berjalan sebagaimana mestinya, tanpa terganggu perasaan mengganjal yang muncul didalam diri gue.

Disaat gue memutuskan seperti ini, gue dilanda pertanyaan lagi, berarti kalau gue ga ketemu tempat yang cocok, gue akan terus berkelana dong ya? Jawabannya, mungkin begitu, mungkin juga gue akan menambah nilai toleransi gue, dan berusaha untuk menyesuaikan dengan perusahaan. Yang jelas, gue akan berusaha agar pekerjaan gue tidak kemudian hanya menjadi beban, dan membuat gue ga enjoy dalam mengerjakannya. Karena berdasar cerita dosen gue pada satu sesi sharing, kerja kaya gitu, senengnya itu cuma di hari gajian sampai h+5 gajian, sisanya sengsara.

So, what to follow? Brain or heart?

Well, let’s follow both.

Let’s work with your brain, but based on your heart.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s