Managing Expectations

“…Dan sebagaimana manusia, adalah makhluk yang selalu dikejar ekspetasi, tak ayal kita juga menciptakan aneka ekspektasi yang membebani hubungan kita dengan orangutan.” Dee, Supernova – Partikel

Sepotong kalimat dari novel partikel karya Dewi Lestari itu, berhasil membuat saya berhenti membaca dan langsung membuka blog ini.

Ekspektasi, setiap orang pasti punya yang namanya ekspektasi. Baik itu ekspektasi terhadap diri sendiri, orang lain, atau malah benda mati. Saya sendiri merupakan seorang yang jarang memiliki ekspektasi, karena saya selalu berusaha untuk bisa santai, dan dengan memiliki ekspektasi, saya merasa ada suatu beban yang muncul untuk bisa memenuhi ekspektasi itu.

Karena hal itu, saya menjadi berusaha untuk tidak berekspektasi lebih. ekspektasi yang saya berikan cukup sekedarnya saja, ibaratnya pas se KPI lah. Kecuali, saya tahu kalau seseorang itu memang memiliki kapasitas lebih untuk mendapat kehormatan meraih ekspektasi yang lebih besar.

Walaupun dalam diri yang asalnya *sok* perfeksionis ini, ekspektasi yang ingin diberikan sebenarnya cukup tinggi. Namun, karena satu dan lain hal saya selalu berusaha untuk menurunkan ekspektasi. Pertama, saya sulit untuk menghadapi rasa kecewa, jadi daripada saya hanyut dalam kekecewaan karena ekspektasi yang tidak tercapai, sebaiknya saya berusaha bersikap santai dari awal dan tidak memiliki ekspektasi yang tinggi. Kedua, saya takut apabila mendapatkan ekspektasi yang tinggi dari orang lain. Seperti yang saya sampaikan diatas, saya takut hal ini menjadi beban dan membuat saya tidak fokus. Maka dari itu, saya cenderung mengarahkan orang untuk memiliki ekspektasi secukupnya kepada saya.

Memang, kedua alasan itu terasa konyol sekali. Hanya karena hal seperti itu, saya menahan potensi yang sebenarnya ada didalam diri. Potensi yang sebenarnya bisa muncul, tapi hanya karena kondisi mental yang merasa belum kuat, tidak berani mengambil kesempatan berkembang. Padahal, belum tentu ekspektasi yang awalnya kita buat tinggi, tidak tergapai dengan kemampuan kita. Karena, apabila kita tidak berani mencoba, siapa yang bisa tahu hasil akhirnya?

Akan tetapi, bukan berarti kita bisa seenaknya saja menentukan ekspektasi kita. Kita harus tetap bisa mengatur ekspektasi kita, agar tetap sesuai dengan kemampuan diri. Jangan sangat tinggi dan tampak mustahil, jangan juga terlalu rendah sehingga akhirnya mengurangi motivasi kita. Memang tidak mudah untuk bisa melakukan itu, namun sekali lagi, hal ini perlu dilatih. Kita harus berani untuk mencoba memberikan ekspektasi lebih bagi diri kita, agar kita bisa lebih berkembang lagi.

So, let’s we all learn to manage our expectations, set it as high as you can achieve it. Even if we failed, we still have something new to learn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s