Me and Bookstores

Gue selalu senang untuk bisa masuk ke toko buku, terutama toko buku yang lebih banyak jualan bukunya dibanding printilan – printilan semacem Fancy stuff dan kawan kawan. masuk ke toko buku itu bikin tenang dan nyaman rasanya. Yah, ga harus toko buku sih, tapi suatu tempat yang banyak bukunya aja, bisa juga perpustakaan atau stall majalah. Entah mengapa setiap gue masuk kedalam toko buku, rasanya itu nyaman banget, gue jadi merasa sangat berpendidikan sekali. *cetek* 

Dengan alasan seperti itulah, gue jadi suka main ke toko buku, mungkin karena udah dibiasain dari kecil kali ya sama nyokap, belom lagi dulu jaman masih kecil, udah dipaksa belajar baca, jadi kebawa sampe sekarang. *walau sekarang lebih banyak baca timeline* nah, berdasarkan dari pengalaman bookstore hopping ini, gue kok merasa buku itu mahalnya naujubilah yak. Apalagi buku – buku impor, mau itu novel, komik, text book, sampai majalah. Jujur aja, gue lebih suka baca buku versi bahasa inggris dibanding, bahasa indonesia. Bukan bermaksud sombong atau gimana, tapi rasanya keren aja gitu kalo baca buku bahasa inggris. *ditimpuk rak buku* Ga deng, itu karena dengan baca buku bahasa inggris, gue merasa itu menjadi latihan yang bagus bagi gue untuk bisa menambah perbendaharaan kata – kata. Tapi ya itu dia, harganya yaolooo!! Satu buku bisa bayarin gue makan siang 2 minggu! Guepun selalu suka dengan majalah – majalah impor, kalo yang ini sih, karena tekstur kertasnya yang tipis – tipis menggoda gitu, tapi ya itu, karena harganya yang bisa buat bayar makan seminggu, gue beli majalah itu, kalau memang isinya menarik saja, dan juga lebih sering belanja dari app Scoop, dimana harga majalahnya bisa lebih murah! 

Trik yang sama juga gue lakukan untuk beberapa buku, karena buku aslinya yang mahal naujubilee, gue suka download ebooks, dan kemudian dimasukin ke iPad, untuk kemudian dibaca dan dijadikan bahan referensi. *hampir semua buku di daftar pustaka skripsi gue, pake ebook* Tapi ya itu, baca buku digital itu, meskipun praktis tapi ga semenarik baca buku asli. Kalau kata temen gue, ada sensasinya gitu pas tangan balikin kertas dan denger bunyi kresek-kreseknya, tapi ya itukan lebih ke emotional feelingnya ya. Kalau mau cari isi sih, sama – sama aja. 

Tapi memang, terkadang kepraktisan buku digital itu gak bisa dibandingkan dengan perasaan saat memilih buku asli. Melakukan search buku di iBooks atau Scoop, tidak akan sama esensinya dengan jalan masuk ke toko buku baik yang di mall ataupun sekitaran kwitang, dan kemudian berjalan menelusuri tumpukan buku, sambil sesekali berhenti dan baca sinopsis singkat yang ada dicover belakang buku. Apalagi, dengan toko buku yang menawan, bisa membuat kita betah seharian keliling didalamnya. 

Untuk toko buku favorit, pilihan gue masih kepada Kinokuniya Plaza Senayan, entah mengapa suasana disitu sangat menyenangkan dan kayaknya mendorong sekali untuk orang mau membaca buku. Sedangkan kalau didekat rumah, gue suka sekali suasana saat masuk ke Periplus Mall Kelapa Gading.Meskipun bukunya sedikit dan tempatnya mini. Suasananya menyenangkan, berdiri dikelilingi tumpukan buku. Itu menjadi sebuah kenikmatan sendiri buat gue. 

Jadi, apa sih point posting ini? Ga ada sih, gue cuma pengen sekedar bercerita aja mengenai kesenangan gue akan buku, dan rasa nyaman yang muncul saat dikelilingi buku! 

Adakah yang memiliki perasaan yang sama?

Oh, sekalian deh, ada yang tau dimana bisa dapet majalah – majalah impor yang murah?

*Pasang tenda di Kinokuniya PS*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s