Dealbreaker

What is your dealbreaker?

Apa yang membuat kamu sampai merasa tidak mau lagi memberikan kesempatan kepada orang lain?

Kalau saya sih, kalau sudah pernah memiliki pengalaman buruk sama seseorang, dan terjadi beberapa kali. Menurut saya itu sudah menjadi sebuah dealbreaker! Kalau kejadian terjadi hanya sekali atau dua kali mungkin masih bisa dimaklumi. Namun jika sudah terjadi lebih dari tiga kali, hal itu sudah sulit untuk ditolerir menurut saya.

Saya ini tipe orang yang sulit mempercayai orang kembali, jika sudah pernah mendapatkan pengalaman buruk. Hal ini akan membuat saya lebih berhati-hati dan menjaga jarak atau bahkan menghindari orang tersebut ketika harus mengerjakan sebuah project. Karena dibandingkan saya harus menahan emosi dan akhirnya menjadi tidak nyaman, lebih baik saya tidak bekerja sama dengan orang tersebut.

Memang ini bukanlah sebuah sifat yang baik, karena tidak ada manusia yang sempurna. Akan tetapi kalau kekecewaan itu sudah datang berkali-kali, bukankah bodoh rasanya apabila tetap mengajak bekerja sama dengan seseorang itu? Memang manusia itu bisa berubah, dan bukan tidak mungkin saya kembali bekerja sama dengan orang yang pernah mengecewakan saya. Namun bila hal itu terjadi, mungkin saya akan memberikan porsi pekerjaan yang tidak terlalu krusial, mengingat track record yang pernah terjadi.

Bagaimana jika kita ternyata harus bekerja dibawah orang tersebut, mungkin ada moment dimana dia bekerja dengan baik, dan mendapat kesempatan mengepalai suatu project. Pilihannya ada dua, ikut membantu dalam project atau memilih untuk tidak terjun dalam project itu. Apabila kita ikut membantu, kita harus bisa mencoba bekerja sama dan mengikuti arahan yang diberikan, dan apabila kita memilih untuk tidak ikut, kita sebaiknya bersikap netral. Maksudnya netral, kita tidak berusaha untuk menghasut rekan-rekan lainnya dengan pendapat kita mengenai orang tersebut.

Saya tahu, kedua hal itu bukanlah hal yang mudah. Untuk bisa bergerak dibawah orang yang tidak kita percaya itu, membutuhkan sebuah hati yang besar dari kita untuk menerima bahwa dia merupakan orang yang memegang kendali lebih untuk project tersebut, dimana kita harus bisa menghargai pendapatnya, yang merupakan sebuah hal yang menantang disaat kita tidak memiliki respect kepada orang tersebut. Bersikap netral juga membutuhkan perjuangan yang besar, karena untuk itu kita harus bisa menahan ego pribadi kita, dan menahan ego itu bukanlah hal yang mudah!

It will be a wise move for us to give another chance for other people, not in a near time, but sometimes later in the future. When we are already become more wiser, or simply when we can give an objective judgemnet about people. It’s also felt good if we can get another chances from others, isn’t it?

So, how do you deal with your dealbreaker?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s