Hidup di Jakarta

Hidup di Jakarta itu menyeramkan.

Kalau ga sabar bisa cepet sakit jiwa.

Dibalik semua hingar bingar yang tampak menyenangkan tersimpan sedikit energi negatif didalam diri setiap warganya. Baik energi negatif karena dasar personal orang itu, ataupun energi yang tercipta dari situasi di lingkungan sekitar.

Seorang teman pernah berkata, ‘gue ga mau nyetir di Jakarta, memang enak di dalam mobil tapi macetnya itu bikin semua energi negatif ngumpul yang bisa bikin emosi.’ Memang tidak seperti itu kalimat pastinya. Tapi intinya seperti itu, dia ga mau bawa mobil di Jakarta, karena situasi jalanan yang parah. Dia lebih memilih naik motor sehingga waktu perjalanan bisa menjadi lebih singkat. Saya ga bilang dia benar atau salah. Itu adalah pendapat dia sebagai orang Malang yang lalu mengadu nasib di jakarta.

Saya sendiri, meskipun saya adalah seorang yang lebih suka gaya hidup urban, dan lebih memilih jalan – jalan di hutan beton dibanding melakukan outbond di pelosok gunung. Saya jujur merasa sedikit takut, untuk hidup di hutan beton Jakarta ini. Hidup di Jakarta ini butuh tingkat kewaspadaan yang ekstra. Bukan hanya karena kondisi keamanan, tapi juga karena gaya hidup masyarakat yang sudah mulai berubah. Banyak aturan yang akhirnya hanya menjadi sebagai sekumpulan tulisan yang tidak lagi memiliki makna, seperti rambu jalanan yang akhirnya hanya sebagai ornamen jalanan.

Kondisi Jakarta ini merupakan sesuatu yang berada diluar kendali kita. Apa yang bisa kita atur itu hanyalah bagaimana cara kita menanggapinya. Mau dengan tenang dan tetap berkepala dingin, atau ikutan panas dan bersikap agresif? Semua itu tercerminkan dalam tindakan kita, dalam melampiaskan emosi yang tersimpan ini.

Hidup di Jakarta juga membuat kita harus memiliki sebuah pelampiasan untuk membuat kita tetap waras. Dan pelampiasan itu beraneka ragam, ada yang menyerah dan memilih untuk menyamakan tindakannya dengan yang lain, ada juga yang tetap berpegang teguh dengan dirinya. Bagi mereka yang berusaha memegang teguh prinsipnya ini, pasti mereka memiliki sebuah pelampiasan.*kecuali mereka sudah sangat bijaksana dan luar biasa untuk menghadapi keadaan kota Jakarta ini* Pelampiasan ini bisa beragam, ada yang memilih memanjakan diri dengan makan enak, ada yang memilih bertemu teman dan melakukan kegiatan bersama atau sekedar duduk santai dan bertukar pikiran mengenai apa saja. Ada juga yang malah memilih menyendiri di sebuah pojokan yang nyaman dan tenang, untuk mengimbangi keadaan yang tampak serba cepat di Jakarta.

Saya sendiri memilih untuk duduk santai berbincang dengan teman atau mencari sebuah pojokan sepi yang nyaman untuk sekedar memberi ruang bagi kepala ini untuk bernafas dan rileks sejenak sebelum akhirnya kembali disibukkan dengan keadaan Jakarta yang semrawut dan membuat stress.

Tapi biar keadaan seperti itu, tinggal di Jakarta itu tetap menyenangkan. Banyak hingar bingar keriaan yang bisa terjadi. Ya, selama kita masih tetap bisa menyeimbangkan keadaan pikiran kita untuk tetap waras dari keadaan semrawut Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s