Boundaries

Boundaries.

Batasan.

Sebenernya ada ga sih yang namanya batasan itu. Bukan batasan dalam artian peraturan dan sebagainya ya. Tapi batasan yang tercipta dari pikiran. Pikiran siapa? Ya pikiran kita, bisa tiba – tiba muncul pemikiran seperti itu, bisa dari orang lain yang berbicara kemudian membuat kita berpikir seperti itu. Terus memangnya burukkah kalau kita memiliki batasan tersebut?

Coba kita telusuri dari dua sisi ya.

Pertama, sisi positifnya, dengan memiliki batasan itu, kita bisa lebih fokus ga sih? Karena menurut gue, dengan adanya batasan itu, kita bisa tahu apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi prioritas utama kita. Batasan ini bisa membantu kita untuk bersikap lebih efektif dan efisien. Dengan adanya batasan ini, kita bisa mengurangi resiko pekerjaan yang terbengkalai karena terlalu luas. Dengan menentukan ini juga akan memperjelas kita akan arah dan tujuan. Jadi dengan adanya batasan, kita bisa tahu pribadi seperti apa yang ingin dibentuk oleh pemikiran kita.

Kedua, sisi negatifnya, dengan memiliki batasan itu, kita bisa saja menjadi tertutup. Kita tidak mau mengetahui hal – hal yang terjadi diluar batasan yang sudah ditentukan. Hal ini bisa membuat kita menjadi tidak peduli, dan membatasi ruang gerak kita. Karena batasan itu yang kita buat sendiri, kita jadi tidak bisa melakukan hal – hal diluar kebiasaan itu. Batasan itu bisa akhirnya mematikan imajinasi kita dan akhirnya menjadikan kita pribadi yang mudah ditebak. Terkadang batasan ini membuat kita terlalu nyaman dan akhirnya memilih untuk tidak berkembang lagi.

Nah, dari dua analisa cetek gue itu, maka bisa ditarik kesimpulan yang tidak kalah cetek. Bahwasanya, batasan yang tercipta itu memang memiliki dua sisi positif dan negatif, seperti juga semua hal, memiliki dua sisi, baik dan buruk. Yang terpenting adalah bagaimana kita sendiri menyikapi batasan itu agar dapat membantu kita, jelas kita bisa menggunakan batasan itu untuk menjadi lebioh fokus, tapi buka berarti kita tidak mau belajar hal – hal lainnya.

Dan itulah yang sedang gue usahakan, dimana sebagai anak cemen yang sangat mencintai comfort zone. Gue sangat susah untuk mau belajar hal baru, dan ini sedang dalam proses perubahan. Gue harus bisa belajar untuk menerima hal – ha; baru dan tidak menutup diri dengan batasan yang ada dikepala gue, yang mana akhirnya hanya akan membuat gue tambah stress, terus makan banyak, terus naek berat badan, terus stress, terus makan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Jadi bagi rekan – rekan ku pencinta comfort zone, yuk coba keluar dari comfort zone itu dan mulai mengeksplorasi hal baru. Siapa tau ditempat baru kita malah ketemu sesuatu yang betul – betul kita kuasai.
Dan ketemu makanan enak tentunya.

Salam Sevel!! Exit!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s