When is Enough?

Baru saja jalan-jalan ke mall dan melewati salah satu gerai elektronik berlogo buah digigit *sok disamarkan* dan mencoba notebooknya yang tipis banget itu… astajim keren sumeren abis-abisan… Dan sebagai orang yang super banyak mau ini, guepun kembali jatuh hati terhadap notebook keceh itu, padahal mah notebook yang sekarang *yang bukan berlogo buah digigit* ini baik – baik saja, ga ada masalah sama sekali…

And, it makes me think again. Ini notebook gue masih bagus, masih berfungsi dengan baik, sangat baik malah, terus kenapa gue sangat nafsu dengan notebook berlogo buah digigit itu? Iya sih, itu keren *ya ini memang statement subjektif*, tapi gue ga butuh itu kok. Notebook gue ini sudah cukup untuk menemani malam mengerjakan berbagai laporan, meski tanpa bintang *insert foto loli dan pipi disini*. Belom lagi beragam gadget yang udah jadi milik gue*sombong terselubung*.

Gue pun mulai berpikir, sebenernya ini semua itu udah cukup. Gue ga perlu lagi tambahan gadget – gadget lain. Tapi kenapa gue ini suka sok centil pengen barang ini itu, kenapa gue ga bisa merasa cukup dengan apa yang gue punya? Kapan gue bisa merasa cukup?

yah, dari dua pertanyaan itu, jawaban yang sejauh ini gue temukan adalah, semua ada di mindset gue. di pemikiran gue, notebook itu belom kece kalo belom yang logonya buah digigit*konsisten disamarkan*, ngopi itu ga asik kalo bukan di tempat kopi berlogo duyung, dan beragam hal hal lain yang sebenernya standardnya itu terlalu ketinggian buat gue.

Dan, kapan gue bisa merasa cukup, ya balik lagi ke diri gue sendiri, mau ga gue bersyukur dengan apa yang gue punya, ga cuma melihat dari sisi gayanya aja, tapi dari sisi fungsinya. Gue harus bisa melihat, dan bilang ke diri gue sendiri, ‘Hey, ini tuh udah cukup. Ga usah sk centil deh lo!’

Bukan berarti kita ga boleh pengen punya ini itu, kalo emang budgetnya ada, dan memang menjadi prioritas sih silahkan aja. Tapi ya kita, mesti bisa memberikan standard barang yang memang masuk akal buat kita.

Jadi, cukup itu menurut gue ya, saat dimana kita udah bisa merasa puas dengan apa yang kita punya. Dan gue sedang dalam proses untuk bisa menghargai apa yang gue punya dan mengontrol keinginan-keinginan centil gue terhadap barang yang sebenernya ga gue perluin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s