Generation Rivalry

Ini dia rivalitas yang paling seru, jauh lebih seru dari Inter Milan Vs AC Milan, Liverpool Vs Everton, Lakers Vs Celtics. Tua lawan muda.

Sering kita denger kalimat gini

‘ yaudah deh, maklum aja, namanya juga orang tua.’

nah, atas dasar kalimat itu gue suka mikir, enak aja kita terus yang maklumin mereka, sekali-kali mereka dong yang maklumin kita, dan akhirnya gue bersikap seenaknya.*tolong jangan ditiru*

tapi tiba-tiba gue kepikiran, ya wajar dong ya kita maklumin mereka, soalnyakan kalo mau diitung-itung, mereka udah jauh lebih memaklumi kita pas masih kecil. Kayak kalo kita nangis, ngambek karena ga boleh maen keluar, makannya banyak*mungkin poin terakhir Cuma berlaku buat gue :P* mereka akan hanya bilang, maklumlah namanya juga masih kecil.

Dan kadar kemakluman itu *apalagi kadar kemakluman, ya itudeh pokoknya* akan semakin berkurang dengan bertambahnya umur kita, karena para orang tua berpikir kita anak muda ini akan terus bertambah umur dan menjadi harusnya semakin dewasa, sehingga mengerti mana yang baik mana yang buruk, jadi ga perlu dimaklumi lagi, melainkan diajak berdiskusi.

Nah dengan gejolak anak muda yang sedang naik turun, ajang diskusi yang seharusnya berjalan dengan damai tentram sentosa bisa berubah jadi ajang debat bau darah, karena baik orang tua maupun anak muda tetap bersikeras dengan argumen masing – masing. Orang tua merasa mereka yang lebih baik, karena mereka lebih berpengalaman, begitu pula anak muda, karena mereka menganggap orang tuanya udah ketinggalan jaman, udah beda masa pergaulan.

Permasalahan seperti itulah yang akhirnya kerap menyebabkan terjadinya percekcokkan antara anak dan orang tua, padahal ya seharusnya sih mereka itu sama – sama mau mulai berpikiran terbuka, dan bisa memaklumi satu sama lain, anak muda harus bisa mengambil inti dari petuah orang tua yang jelas lebih berpengalaman, dan orang tua pun harus bisa menerima masukan dari anak muda, karena walaupun orang tua itu mungkin lebih berpengalaman, jaman terus berubah, cara yang berhasil di masa mereka belum tentu berhasil dimasa sekarang. Sehingga para orang tua ini harus mendengarkan pendapat anak muda yang lebih mengetahui kondisi jaman sekarang.

Permasalahan orang tua ini mungkin ga masalah kalo punya orang tua yang masih ‘gaul’, masih melek pergaulan gitu. Contohnya aja kalo sama nyokap, gue bisa ngobrol ngalor ngidul kaya sama temen, kenapa? Karena nyokap gue itu masih melek pergaulan, masih suka jalan – jalan, orang kadang nyokap lebih gaul dari gue. Nah karena itu gue ngobrolnya lebih enak, karena dua – duanya ngerti ‘kondisi lapangan’. Tapi kalo sama bokap, ga bisa kaya gini, soalnya bokap gue orangnya masih agak kuno, ga paham ‘kondisi lapangan’. Nah, disini gue mulai belajar maklum sama tindakan – tindakan bokap yang emang ‘ga sejalan’, begitu pula bokap, maklum sama tindakan anaknya yang lebih sering kurang ajar, daripada nurutnya.

Karena itu, dibutuhkan usaha dari dua orang untuk bisa saling mengerti, jangan dari satu pihak aja. Karena ya namanya manusia, mana ada sih yang mau kalah terus – terusan. Jadi kedua belah pihak harus bisa saling memberikan pengertian yang sama besarnya, dan juga tetap menjaga komunikasi yang baik sehingga tidak terjadi kesalahan komunikasi, karena sebagai mahasiswa yang kuliah komunikasi gue betul – betul merasakan pentingnya berkomunikasi, dengan sedikit kesalahan komunikasi aja bisa muncul masalah. Karena itu sebaiknya sih komunikasi yang baik itu sudah dibina sedari awal.

 

Andy William

5 Maret 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s