Great power comes with great responsibilites

Ini kalo ga salah quote dari film spiderman ya.. hehe..

Coba sekarang kita balik kalimatnya. ‘Setilibisnopser taerg htiw semoc rewop taerg’ eh, salah deng maksudnya great responsibilities comes with great power..?

Kalo dengan kalimat yg pertama itu pada setuju ya.. dengan adanya kuasa atau kemampuan yang besar, jelas beban atau kewajiban kita akan menjadi lebih berat. Contoh deh, kalo bikin acara dan acaranya kurang memuaskan siapa yang bakal dicecer? Ya ketua pelaksana, kenapa? Ya jelas soalnya dialah pemegang kuasa terbesar di acara itu, jadi kalo ada yang ga beres semua akan langsung nyari si ketua pelaksana. Tapi kalo bagus ya jelas, ketua juga yang akan dielu-elukan. Kalo merujuk ke kalimat itu, menurut gue orang yang memegang kekuasaan yang besar itu haruslah orang yang kuat mental. Kenapa kuat mental? Karena kalo sekedar pengalaman atau ilmu masih bisa ditanyakan ke orang yang lebih senior. Tapi untuk mental, itu harus dimulai dari diri sendiri. Ga mungkin mental yang ada didalam diri kita diatur-atur sama orang lain.

Nah namun karena kita ini manusia yang tidak lepas dari kesalahan. Kitapun terkadang suka salah memberikan kuasa, orang yang menurut kita cocok untuk memiliki kuasa terbesar, ternyata pada prakteknya tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, ternyata dia ga bisa mengendalikan tekanan besar yang datang dari kuasanya itu. Kalo begini peranan mental pasti akan sangat berpengaruh. Ini akan menunjukan kapabilitasnya, kalo mentalnya kuat, dia akan tetap menerima kritikan dan terus membangun diri. Bukan hanya sekedar satu-dua kali menerima kritik, tapi berkali-kali. Karena untuk bisa menemukan suatu yang benar-benar pas itu ga cuma sekedar satu dua kali, Thomas Alfa Edison aja melakukan ribuan kali kesalahan sebelum dia menciptakan bola lampu itu. Coba kalo mentalnya cemen, pasti gagal 2-3 kali udahan dia, ga mau nyoba lagi. Sama dengan kita, kalo mentalnya cemen, abis melakukan satu-dua perubahan kita udah merasa cukup, ga mau mencoba lagi untuk berubah. Padahal perubahan itu bukan cuma dari ‘A’ jadi ‘B’, ‘B’ jadi ‘C’, ‘C’ jadi ‘D’. Tapi bisa terus berubah, ‘A’ ke ‘C’, ‘C’ ke ‘B’, ‘B’ ke ’A’, ‘A’ ke ‘D’, dan seterusnya.

Dari situ muncul pertanyaan dipikiran gue. ‘does great power comes along with the responsibilities?’ kalo menurut gue, enggak! Kita harus berusaha untuk mendapatkan kuasa/kemampuan itu, gimana caranya? Ya, dengan menguatkan mental dan membuka diri terhadap segala masukan, bukan Cuma sekedar masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Kalo kita sendiri udah bersikap seperti itu, pasti orang-orang disekitar kita juga akan sangat mau untuk membantu kita mendapatkan kuasa/kekuatan itu. Tapi kalo kitanya ga terbuka dengan opini orang lain ya agak sulit untuk orang lain mau menolong. Karena semua hal kembali bergantung didalam diri kita, faktor eksternal hanyalah sebagai pembantu untuk diri kita menyadari kekurangan dan kelebihan kita, yang seharusnya sudah bisa kita sadari sendiri. Selain itu kita juga mesti ngeh, mana kritik membangun, mana kritik yang cuma buat jatohin mental.

Yuk kita coba bareng-bareng buat membuka diri terhadap kritik, dan melatih mental kita.

 

Andy William

20 Februari 2011

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s